Jual Crystal X Asli - Harga Crystal X Nasa Terbaru - Distributor Crytsal X

Keputihan Saat Hamil, Berbahayakah?

Keputihan Saat Hamil, Berbahayakah?
Mendengar cerita dari seorang sahabat tentang keluhan keputihan yang dialaminya pada umur kehamilan 5 bulan dengan ciri-ciri memiliki bau yang tidak sedap dan dokter memberikan analisa bahwa kurang menjaga kebersihan serta memberikan anti biotik. Ini mengantarkan kami untuk mencari tahu, apakah itu berbahaya, rentan terhadap ibu hamil atau kondisi yang normal. Berikut penjelasan yang kami kutip dari website alodokter.com, keputihan saat hamil sebenarnya adalah hal yang normal. Peningkatan kadar estrogen dan meningkatkan aliran darah ke vagina membuat frekuensi dan kadar keputihan semakin meningkat di masa kehamilan. Cairan tambahan yang keluar dari leher rahim  ini sebenarnya adalah sisa buangan dari rahim dan vagina, bakteri normal dari vagina, dan sel-sel mati dari dinding vagina. Jika keputihan yang dialami saat hamil terlihat normal dengan cairan jernih atau putih dan tanpa bau, maka ini merupakan kondisi yang normal dan sehat.  Namun perubahan hormon dan bentuk tubuh membuat ibu hamil memang lebih cenderung mengalami infeksi vagina. Lalu seberapa bahayanya akibat keputihan itu pada janin? Keputihan yang berbahaya dapat disebabkan oleh infeksi jamur, bakteri dan yang lain. Berikut penjelasannya :

Vaginosis bakterial

Bakteri yang tumbuh berlebihan pada vagina yang disebabkan perubahan hormon dapat mengakibatkan kelahiran prematur atau dengan berat badan kurang. Vaginosis bakterial umumnya disertai dengan gejala:

Gatal di sekitar vagina.
Keluarnya cairan berwarna abu-abu keputihan.
Nyeri saat buang air kecil.
Terkadang kondisi ini dapat mereda dengan sendirinya. Namun ada kalanya memerlukan pengobatan antibiotik. Jika dibiarkan, infeksi ini dapat menyebar dan menjadi penyakit radang panggul.


Infeksi jamur

Peningkatan kadar hormon estrogen dan progesteron juga akan meningkatkan pertumbuhan berlebihan Candida, yaitu jamur yang tumbuh alami pada vagina. Gejalanya sebagai berikut:

Keluarnya cairan berwarna putih kekuningan, berbau ataupun tidak.
Nyeri saat melakukan hubungan seksual.
Vagina atau labia memerah dan bengkak.
Nyeri dan gatal pada vagina.
Vagina terasa terbakar saat buang air kecil.
Penanganan umumnya dilakukan dengan krim atau obat-obatan antijamur.


Group B Strep (GBS)

Bakteri GBS terdapat pada 1 dari empat tubuh banyak wanita sehat. Namun pada beberapa orang, GBS dapat mengakibatkan infeksi serius. Gejala kondisi ini umumnya sama dengan gejala pada pengidap infeksi saluran kencing seperti urine yang berwarna keruh, sensasi terbakar saat buang air kecil, dan mendadak merasa sangat ingin buang air kecil. Agar infeksi ini tidak tertular ke bayi, dokter akan memberikan antibiotik saat ibu menjalani proses persalinan. Sayangnya, tidak ada langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah kondisi ini .

Trikomoniasis

Parasit ini hidup dalam vagina dan ditularkan melalui hubungan seksual. Gejalanya adalah munculnya cairan berbusa berwarna kuning kehijauan dan berbau busuk, serta sensasi rasa gatal dan terbakar saat melakukan hubungan seksual. Umumnya dokter akan meresepkan pemberian antibiotik untuk menangani kondisi ini.

Jika mengalami kondisi-kondisi di atas, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter kandungan dan hindari penggunaan obat-obatan bebas. Waspadai juga jika usia kehamilan Anda belum mencapai 37 minggu tapi terdapat perubahan bentuk dan warna cairan yang keluar dari vagina, misalnya menjadi cair, berdarah, berubah warna menjadi cokelat atau merah muda. Kondisi ini dapat menjadi gejala kelahiran prematur.

Pada umumnya setiap kehamilan dapat mengalami keputihan, jadi tidak perlu khawatir jika itu terjadi. Namun, lakukan pencegahan sejak dini sebelum keputihan yang berbahaya menyerang ibu hamil. Mengkonsumsi makanan bergizi, menjaga kebersihan serta melakukan hubungan dengan benar dapat mencegah itu semua.
Pusat Tanya Jawab Produk Nasa